Gunter G-9

Distro Linux Untuk Orang Indonesia

Posted in Pegel Linux by f0xy on Februari 18, 2007

bukan mimpi bukan banyolan, siapa tahu ada yang ingin mewujudkannya

Cukup tergelitik hati saya untuk membuat tulisan ini. GNU/Linux atau Linux saja, ini yang lebih populer, adalah sebuah Sistem Operasi Open Source yang sering dibandingkan dengan Sistem Operasi Windows™ buatan Microsoft. Tapi saya tidak ingin membandingkan keduanya. Lalu? Saya hanya ingin mencoba melalakukan perkiraan, ya perkiraan, sebuah distro Linux yang cocok untuk orang Indonesia.

Kita mengetahui bahwa Windows adalah sistem operasi yang paling banyak digunakan di dunia, begitu pula di Indonesia. Karena hal itu, para pengguna komputer mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang sama saat mengoperasikan sebuah PC: Windows Minded. Dari antarmuka pengguna, sampai cara instalasi sebuah aplikasi, boleh dibilang dilakukan secara seragam. Instalasi software biasa dilakukan dengan cara mengklik dua kali (double click) file instalasi tersebut (biasanya berbentuk .exe), semua sudah mafhum. Selanjutnya tinggal klik, next, next, next, dan finish.

Di lain pihak, Linux mulai mendapat perhatian sebagai sistem operasi alternatif selain Windows. IGOS, yang dicanangkan pemerintah RI–entah serius entah setengah hati, majalah Infolinux yang muncul awal tahun 2001 (saya pun berlangganan sejak edisi pertama sampai sekarang) juga mempunyai maksud mengenalkan dan mempopulerkan Linux kepada masyarakat Indonesia. Apa hasil yang telah dicapai? Pada awalnya orang tak pernah mengenal Linux. Pada awalnya, hanya ‘orang-orang gila saja’ yang menggunakan Linux, dan saya bagian dari itu, menjadi ‘gila’. Menurut pengamatan saya, Linux mulai memasyarakat pada akhir-akhir ini, ketika hampir semua distro menggunakan kernel 2.6 secara default. Dengan menggunakan versi kernel 2.6, dukungan perangkat keras pada Linux semakin meningkat.

Lalu distro apa yang cocok untuk orang Indonesia? Apalagi dengan banyaknya distro yang beredar makin membingungkan para pemula untuk mencoba Linux. Belum lagi distro-distro buatan dalam negeri.Teman saya yang cukup berminat terhadap Linux punya pertanyaan-pertanyaan (pernyataan-pernyataan) yang cukup mewakilkan kebanyakan pengguna Windows yang ingin mencoba Linux.

  1. Bagaimana caranya menginstal Linux? Apakah semudah Windows?
  2. Bagaimana menginstal software di Linux? (Katanya .rpm itu mirip dengan .exe di Windows, dahulu, saya juga punya pikiran seperti ini)
  3. Apakah linux bisa ‘found new hardware‘ ketika kita menambahkan perangkat keras baru?
  4. Apakah Linux bisa mencetak seperti di Windows? Apakah software bawaan printer bisa diinstal di Linux?
  5. Apakah Linux bisa buat akses internet? Apakah modem saya bisa digunakan di Linux?
  6. Apakah Linux punya aplikasi seperti Microsoft Office?
  7. Apakah Linux bisa memainkan berkas .mp3 seperti di Windows? Apakah ada WinAmp di Linux?
  8. Game seperti apakah yang bisa dimainkan di Linux? Bisakan Linux memainkan game-game untuk Windows?

Masih banyak pertanyaan lain. Tapi saya coba membatasinya hanya delapan butir saja. Bagi saya pertanyaan-pertanyaan itu cukup mewakilkan kebanyakan orang Indonesia yang ingin mencoba Linux, sangat manusiawi. Karena kebanyakan mereka biasa menggunakan Windows. Dari pertanyan-pertanyaan sepele tersebut, mungkin bisa dijadikan acuan bagi pengembang distro di tanah air untuk membuat distro yang cocok untuk orang Indonesia kebanyakan. Kalau Anda mencari distro yang saya maksud, saya tidak menyediakan jawabannya. Tapi saya hanya ingin mengajak semua para pengembang Linux di tanah air untuk memperhatikan perkembangan distro buatan mereka. Tidak sekedar timbul tenggelam.

Saya berharap distro yang dibangun oleh pengembang Indonesia, memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Berorinetasi desktop, tapi aplikasi server juga jangan diabaikan begitu saja.
  2. Dibangun dari awal (from scratch), gunakan Installer GUI yang ramah pengguna, tapi jangan terlalu banyak memakan sumber daya. Mungkin bisa cek InstallJammer yang digunakan oleh SaxenOS atau bisa contoh instalernya CCUX Linux.
  3. Jangan terlalu banyak dependensi, atau kalau mungkin abaikan saja dependensi. Ini karena kebiasaan pengguna Windows yang cukup mengklik .exe saja untuk instalasi sofware. Sertakan saja README bila ternyata sebuah software tergantung dengan software yang lain
  4. Gunakan .rpm atau mungkin .deb sebagai manajemen paket, karena pengguna Windows lebih mengenal paket .rpm atau mungkin .deb yang mulai populer bersamaan dengan semakin populernya Ubuntu… hihihihi bukan Debian. Catatatan: .rpm atau .deb hanya sekedar bentuk pemaketan software, jangan terlalu memisah software menjadi kecil-kecil yang bermuara pada dependency hell
  5. Sertakan aplikasi pihak ketiga by default seperti Java, Adobe Reader, dan Flash Player
  6. Sertakan driver VGA seperti NVIDIA dan ATI, driver printer, juga driver modem internal yang populer di Indonesia.
  7. Mendukung format .mp3 atau format multimedia populer lainnya, kebanyakan distro populer seperti OpenSuSE, Ubuntu atau Fedora Core mengharuskan penggunanya untuk mengunduh pustaka mp3 dari internet, minimal menunggu majalah Infolinux memberi ekstra paket untuk ketiga distro tersebut.
  8. Untuk aplikasi perkantoran, sebisa mungkin OpenOffice dibuat lebih irit RAM. (Hihihihi)
  9. Perbanyak game-game yang menarik, tidak hanya game bawaan KDE/GNOME. (Ayo.. ayo..)
  10. Update/Upgrade sebisa mungkin jangan via internet, mahal, lebih baik disertakan pada bonus CCD majalah komputer yang beredar di Indonesia, terutama Infolinux.
  11. Jangan lupa, dukungan terhadap distro tersebut jangan terhenti di tengah jalan, seperti kebanyakan distro-distro bikinan orang Indonesia sebelumnya. Viva Open Source/Linux Indonesia!

Ada yang mau menambahkan?
Ini hanya sekedar wacana. Berharap orang-orang yang berkecimpung di Yayasan Penggerak Linux Indonesia mau memperhatikan para pemula Linux. Dan seluruh aktivis Linux Indonesia mau meluangkan tenaga dan waktunya untuk membuat distro khas Indonesia yang ramah pengguna. Distro yang –work out of the box– bekerja tanpa terlalu banyak campur tangan user. Apakah ini mimpi di siang bolong?

Iklan

66 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. maseko's weblog said, on Februari 19, 2007 at 10:00

    Distro Linux Untuk Orang Indonesia

    Teman saya, Eko Santoso, mempunyai pendapat tentang hal-hal yang perlu dipertimbangkan pengembang distro linux agar sesuai dengan selera orang-orang Indonesia. Silahkan berkomentar di sana.

  2. Masim "Vavai" Sugianto said, on Februari 19, 2007 at 12:09

    Ada banyak varian dan opsi untuk mewujudkan Linux seperti yang mas Eko idam-idamkan :-).

    Saya setuju bahwa Linux perlu ada variasi seperti diatas. Namun kita tidak boleh berhenti sampai disitu. Untuk awalan memang bagus, namun kedepan mindset juga mesti berubah. Mengapa ? Linux bisa saja dijadikan semudah Windows (mudah dalam tanda kutip, karena kebiasaan). MP3 misalnya, memang mesti mempertimbangkan lisensi, meski MP3 populer di Indonesia.

    Selalu ada pro-kontra memang, namun sebagai orang yang pernah (dan masih tentu saja) mengalami kebingungan intelektual jika berhadapan dengan Linux, saya setuju diciptakannya distro yang chic (dalam kacamata user pemula). Jikapun ini dianggap terlalu sepele bagi developer Linux, pikir saya, opsi ini berguna untuk menepis ucapan, “Pengguna Linux masih sedikit…”

  3. Nur Aini Rakhmawati said, on Februari 19, 2007 at 13:16

    tulisan yang bagus
    semoga terwujud

  4. ech said, on Februari 19, 2007 at 15:28

    saya tergelitik oleh stigma bahwa akan jauh lebih mudah jika (linux itu) di desain mirip dengan windows. Apa tidak terpikir bahwa menggunakan Windows kadang lebih ribet dibanding Linux?

  5. gnine said, on Februari 19, 2007 at 16:20

    @ vavai
    mengenai lisensi mp3, yg sering berkutat linux, akan mafhum hal ini, tapi yg terbiasa dengan windows, masih lom banyak yg tahu. Bahka ketika opensuse/fc/ubuntu, gak bisa nyetel file2 mp3, semua pada protes. EDUKASI memang sangat penting.

    @ ech
    Kalo kita telah terbiasa dg linux, maka kita akan bilang lebih asik pake linux. Tapi bagi user yg belom pernah sama sekali nyoba linux, maka akan cenderung pake pendekatan windows, menurut saya, ini hal yg alami. Kadang2 kita sendiri masih cari2 theme KDE/GNOME yg mirip XP. Kalo mang linux bisa dibuat mudah, katakan semudah Windows, tanpa menghilangkan kekuatan Linux itu sendiri, saya pikir itu bukan hal yang salah.

  6. doeytea said, on Februari 19, 2007 at 16:30

    Semoga terwujud, supaya orang-orang awam linux seperti saya mulai beralih menggunakan linux karena kesederhaan dan kemudahan pengoperasiannya.

  7. coddink said, on Februari 19, 2007 at 16:47

    Lom selesai bacanya, kepanjangan om….:)

    Ntar me baca offline aja deh, takut proxynya mati nih….:)

  8. gnine said, on Februari 19, 2007 at 17:13

    @doeytea
    Linux skrg dah jauh lebih mudah, tinggal kita ikuti saja ‘aturan main’ di linux

    @coddink
    ah si coodink ini selalu saja malas membaca… hehehe

  9. sora9n said, on Februari 19, 2007 at 21:09

    Salam kenal,

    Memang ide pengembangan linux-nya sendiri bagus. Meskipun begitu, yang juga penting adalah bagaimana supaya software kelas ‘pro’ bisa di-port ke linux (walaupun masih tetap berbayar). Seperti Photoshop atau Corel di Mac, kira2 begitu 😛 .

    Kalau saya lihat, hambatan utama user Windows untuk migrasi ke linux adalah program yang biasa dipakai kerja belum ada tandingannya di linux (e.g. Flash, Photoshop, Dreamweaver). Alhasil, orang-orang yang sudah advance di bidangnya malas untuk migrasi, karena program ‘andalan’-nya sendiri belum tersedia padanannya di linux. 😦

    Saya sendiri cukup sering menggambar dengan Photoshop, dan sejujurnya GIMP sekalipun paling bagus power-nya cuma 60-70% dari Photoshop. Jadi deh akhirnya bolak-balik antara Linux-Windows kalau lagi nggambar.

  10. helgeduelbek said, on Februari 20, 2007 at 0:52

    Bagaimanapun saya sudah mulai menyukai linux (sementara ini ubuntu dan keluarganya), Terutama untuk digunakan di sekolah menengah dan dasar, di linux Edubuntu sudah mencukupi. Tidak ada alasan untuk tidak beralih dari pada bertahan dengan windows tak berlinsensi. Instalasinya hanya 6 langkah. hampir semua yang dibutuhkan untuk persekolahan sudah tersedia, tinggal pakai.
    Untuk mengenalkan linux perlu tunjukkan jalan gampangnya saja, dengan sendiri kalau merasa perlu pengguna baru itu akan belajar dengan kesadaran berdasarkan keperluan, belajar memakai CLI itu maksud saya.

  11. sandynata said, on Februari 20, 2007 at 8:35

    satu2nya bagi saya yang menjengkelkan di linux adalah masalah dependency, mumet dah kalo mau install 1 aplikasi ternyata dependency nya banyak.. capee dee…

    tapi selain itu smuanya OK!

    #soran9n
    produk Macromedia bisa dijalankan di linux menggunakan emulator wine, saya sudah pernah coba, photoshop juga bisa tuh, cuma mungkin penggunaannya tidak bisa optimal seperti di windows

  12. achedy said, on Februari 20, 2007 at 10:03

    Yang perlu ditambahkan
    1. Hilangkan dependency
    2. Linuxer jangan mudah marah bila kita-kita yg masih pemula bilang Linux lebih susah :). Kita juga sering bilang bahwa windows rentan virus kok 🙂

  13. rleni said, on Februari 20, 2007 at 10:38

    @gnine
    ya saya setuju. yang saya maxut adalah ada sebagian orang berpendapat “selama linux tidak dibuat seperti windows berarti linux masih susah untuk digunakan”. Kalau boleh saya analogikan, selama gitar tidak dibuat seperti piano, maka bermain gitar itu sulit. Pertanyaan saya sekarang, Apakah linux harus dibuat seperti windows agar lebih mudah digunakan?

  14. ech said, on Februari 20, 2007 at 10:42

    koq comment saya by rleni ? mesti karena barusan istri saya login ke wp.

  15. sora9n said, on Februari 20, 2007 at 13:24

    @ sandynata

    Betul, tapi tergantung rilis program ybs juga. Saya pernah coba demo CrossOver 5.0 (yg sebetulnya sih wine juga =P); Photoshop 7 bisa jalan dengan lancar. Sayangnya begitu dicoba dengan Photoshop CS instalasinya malah hang. 😦

    Lagipula, emulator biasanya tidak bisa langsung kompatibel dengan rilis2 baru. Soal kasus Photoshop CS di atas, kejadiannya sendiri sekitar 1-2 tahun lalu (waktu CS masih berumur +- 6 bulan). Nggak tahu juga sih kalau sekarang, mungkin udah bisa lancar. 🙂

  16. djabrik said, on Februari 21, 2007 at 10:37

    Apa kabarnya Racix Enterprise Dekstop 2.0 Mas..???

  17. gnine said, on Februari 21, 2007 at 10:55

    @rleni/ech

    Saya setuju mas, walau sama2 alat musik, cara bermain gitar dan piano sangat jauh berbeda, tapi tetap menghasilakn nada2 yg sama.

    Itulah pentingnya EDUKASI. Linux itu beda dg windows, walau sama2 Operating System. Berbeda cara memainkannya. Tapi saya pikir gak ada salahnya, bila ada orang2 yg mau menjembatani kesulitan pengguna Windows saat ingin beralih ke linux. Linux yang mudah, tanpa kehilangan kekuatannya, dg ciri khasnya.

    Biasanya, saya cenderung meberikan LIVECD kepada orang2 yg ingin mencoba linux, dengan harapan sebelum menginstal linux, ada semacam ‘pengantar’ ke dunia linux terlebih dahulu. Melihat bagaimana linux booting sampai masuk ke GUI-nya

    Memang sulit mengubah kebiasaan. Sekali lagi, sangat penting edukasi dan support kepada rekan2 yg ingin mencicipi linux.

  18. gnine said, on Februari 21, 2007 at 10:57

    @ djabrik
    silahken cek di http://racix.wordpress.com

  19. Imam Prast said, on Februari 21, 2007 at 19:26

    jangan terlalu ribet. sudo, beryll, compis….. apa lagi tuh ngga ngerti mas……

  20. Imam Prast said, on Februari 21, 2007 at 19:28

    oooo iya, yang pasti harus support hardware2 tua. saya sudah coba banyak linux ngga ada yang brehasil, ubuntu, kubuntu, pc linux, suse, simple mepis, vector linux……semua gagal

  21. gnine said, on Februari 22, 2007 at 10:41

    @ Imam Prast
    Boleh tau gak hardware2 tua yg anda gunakan? Saya sendiri lagi kebagian Celeron 667Mhz Ram 128mb. setelah coba zenwalk, wolvix, akhirnya lumayan asik pake ccux linux, walau pake KDE 3.5.2 tapi tetep lebih enteng ketimbang pake zenwal/wolvix yg pake XFCE.

  22. anton said, on Februari 24, 2007 at 10:09

    masukan yang menarik. saat ini infolinux berencana membuat distro sendiri, kurang lebih mirip dengan usulan di blog ini. sayangnya, sulit sekali mencari full time distro developer. semoga lekas terwujud.

  23. arisuke said, on Februari 24, 2007 at 12:11

    Saya jg pemula pengguna linux. Kekurangan yg sangat saya rasakan sampai saat ini adalah dukungan Linux terhadap multimedia (termasuk games). Meskipun sekarang bahkan sudah ada distro yg mengkhususkan pada segmen ini, distro untuk gamers misalnya, namun tetap saja masih blm bisa dibandingkan dengan kenyamanan ketika bermain menggunakan windows. Games spt Demonstar dengan P233 OS windows, sudah bisa jalan dengan sangat baik. Namun kalau di linux, butuh processor yglebih tinggi untuk memainkan game sekelasnya. (makanya sampai sekarang saya msh belm mendapatkan bukti kalau Linux berjalan lebh cepat.)
    Untuk urusan pengolahan grafispun demikian. GIMP yg disepadankan dgn Photoshop, saya rasa msh blm bisa disebandingkan. (sekali lagi grafis, bkn animasinya, ataupun)
    Pernah ada teman yg ngomong (dan saya rasa emang benar), “Linux itu surganya programmer”.

  24. Faisal said, on Maret 2, 2007 at 9:11

    Intinya sih terbiasa, pepatah lama bilang “alah bisa karena biasa”. Selama ini kan terbiasa dengan Windows makanya banyak yg merasa mudah make windows, kalo dibiasain make linux pasti mudah juga ntar nya, awal kenal windows juga semua nya bingung ya kan?

  25. Harry said, on Maret 24, 2007 at 2:29

    Saya paling benci kalo berhadapan dengan terminal,…klo mau setting dikit musti login sebagai root,…trus disuruh ketik2 kode2 lage…hare gene masih ketik kode kaya DOS!?sebagai newbe mana gw ngeti seh…tapi klo setting admin pake GUI gw ga bakalan protes… wong ya misalnya klo mau jadi root atau su tinggal klik kanan trus isi password…jadilah super user,… apa susahnya sih…kelihatannya para linuxer2 yg sudah “lihay” selalu berdalih masalah keamanan,…wong yang dioprek komputerku sendiri,..kalo salah trus crash khan urusan gw juga, paling2 gw format ulang lagi. sekian untuk kedongkolan gw yang satu ini pada linux. Minimalisir penggunaan konsol untuk settingan2. Saya perlu GUI untuk administrasi biar ga jadi pusing…Buat mas Eko makasih Blog nya.

  26. Harry said, on Maret 24, 2007 at 2:40

    Maaf tambahan sedikit,…menurut gw “konsol” secara tidak langsung adalah suatu bentuk kesombongan para linuxer karena dengan penguasaan konsol maka akan terbentuk pandangan bahwa pengguna linux adalah orang2 yang notabene nya adalah expert atau programer atau semacamnya lah…dan kenyataannya memang benar adalah dengan adanya perintah2 diterminal tersebutlah yg menjadikan linux dianggap susah.

  27. Harry said, on Maret 24, 2007 at 2:57

    …dan adalah tidak benar kalau yang menjadi hal adalah masalah kebiasaan,…terus terang waktu jaman DOS saya tidak tertarik sama sekali menyentuh yang namanya komputer, ga jauh beda dengan kalkulator pikir saya,..tapi setelah Microsoft menggunakan GUI baru saya mulai tertarik. Sama halnya saya tertarik linux karena sudah punya desktop, dan saya tidak perduli desktopnya tidak sama dengan punya pak Bill Gates, tp akhirnya saya berhadapan dengan yg namanya konsol…membuat saya berpikiran bahwa “…wah kok masih primitif”. mungkin anda beranggapan saya lah yg primitif…tapi bisa jadi lebih banyak lagi primitif2 yang lain seperti saya yang ingin mencoba linux setelah itu mundur teratur. Ini masalah rasa dan kepraktisan,kalau anda bilang menggunakan konsol itu praktis, saya malah tidak beranggapan menghafal perintah2 konsol itu praktis, mending saya menghafal nama pacar2 saya, xixixixi…jangan bermimpi linux bisa bersaing dengan windows kalau masih mengedepankan konsol, terminal, dan sejenisnya…biarkanlah mereka menjadi mainan buat para programmernya.

  28. gnine said, on Maret 28, 2007 at 10:09

    Terima kasih mas Harry atas masukannya.
    Menurut saya sendiri, konsole/terminal tetap penting sebagai bagian yg tak terpisahkan. Mungkin yg paling tepat adalah ketika penggunaan konsole sebagai laternatif terakhir ketika GUI tidak mampu melaksanakan tugasnya. Bagi saya konsole tidak berbeda jauh dg “commmand prompt” di Windows.

    Kalo semuanya bisa menggunakan GUI, kenapa harus konsole, begitukan mas Harry?

  29. Livette said, on April 17, 2007 at 7:44

    Nice blog!

  30. win-kool said, on April 19, 2007 at 15:04

    Luar biasa! Antusias dari pemerhati, pengguna, maupun newbie GNU/Linux pada perkembangan O.S open source ini di Indonesia. Saya membaca diskusi yang terjadi diatas, dan memang banyak sekali gesekan perbedaan yang terjadi untuk menciptakan O.S Open Source Linux yang sesuai kebutuhan awam Indonesia.

    Perlu diketahui bahwa prinsip open source adalah membuat sebuah aplikasi sesuai dengan kebutuhan kita, tanpa perlu “bergantung”.Dan ini juga sesuai prinsip Linux. Nah, yang diperlukan adalah konsep minded tentang mau belajar, mau berbagi, dan mau dikoreksi.Disamping itu, jangan lupa dukungan dana juga merupakan hal yang penting dalam daur hidup ini.

    Saya sudah menggunakan IGOS 2006 yang saya beli pada Infolinux 04/2007 dan saya instal pada desktop (Celeron 2,26 Ghz, DDR 256 PC 2700, AsRock, Intel Chipset, VGA, S.C OnBoard) semua dapat dideteksi dengan baik.Sayangnya…aplikasi untuk development program masih kurang. Saya penikmat Gambas dan Mono. Mungkin bisa dibuat seperti ini..
    1. Linux Education (khusus untuk pelajar SD-SMU/sederajat).
    2. Linux Personal/Home (khusus untuk pengguna awam, tidak perlu ribet instal, tapi dipandu dengan buku panduan…harus dibaca lho)
    3. Linux Home Business/UKM (khusus untuk UKM2 di Indonesia)
    4. Linux Enterprise (tentunya ini udah banayak contoh)
    5. Linux Development (khusus bagi tukang utak-atik seperti semua disini ^,^)
    6. Linux Ultimate (mungkin…terinspirasi dari vista…maaf,ya)

    Thx.

  31. susiloharjo said, on Mei 8, 2007 at 23:29

    jangan pernah takut untuk mencoba hal yang baru

  32. susiloharjo said, on Mei 8, 2007 at 23:29

    tetap semangat

  33. nuriman said, on Mei 22, 2007 at 11:14

    assalamualaikum wr. wb
    pak saya ingin tanya ma bapak. bagaimana bisa indonesia membuat sebuah linux????? dan juga bagaimana caranya kami mendapatkan Linux buatan Indonesia ini karena kami belum tau tempat distribusi Linux ini.

    (tolong di balas)
    terima kasih.

  34. ekonik3 said, on Juni 18, 2007 at 16:37

    bos, saya mulai tertarik sama linux dan coba2 instal linux di kompie tua pentium 2 dgn RAM 128 dan HD cuma 2GB.

    kemarin sewaktu instal Damn Small Linux dah berhasil tapi saya gak puas soalnya aplikasi office-nya kurang, akhirnya saya pake puppy linux tapi sampai skarang gak bisa.

    bisa kasih saran gak buat saya? linux apa yang cocok buat komputer dengan spec seperti itu. kalo ada kasih tutorialnya yang lengkap mulai A – Z, terus yang saya mau adalah menghilangkan sistem windows di kompie itu dan menjadi linux sebenar-benarnya. makasih sebelumnya yach

  35. poeyink said, on Juli 23, 2007 at 16:16

    Konsol emang jadi masalah tersendiri dalam linux.
    Karna antar yang tau dan yang tidak tau lebih banyak yang tidak tau.
    Saya sedang belajar linux.
    Saya pake PC linux, tapi untuk menginstall suatu software yang berjalan di windows susahnya minta ampun. Apa itu karna aku yang baru lagi blajar yah?
    Sedang di windows tinggal doble klik aja file exe dah beres.
    Mohon di kasih saran instal aplikasi / *.exe di PClinux

  36. Siswo Utomo said, on Juli 25, 2007 at 17:32

    Saya juga masih coba-coba pakai linux, tapi kebutuhan untuk membuat web, misalnya biasanya pakai macromedia dreamweaver, dilinux terasa sulit. juga misal install gambas pakai mandriva 2005 langsung bisa jalan. pakai ubuntu ada kendala, pakai fedora core 5 ada kendala dengn gb.qt. Nggak kaya di windows install vb misalnya,langsung jadi

  37. yoyog said, on Agustus 14, 2007 at 18:13

    untuk Harry:
    Bagi saya pribadi kurang pantas kalau (maaf) menilai kelebihan kemampuan orang lain sebagai kesombongan belaka. Bagi pengguna komputer pribadi (personal) tentunya akan memilih tool, yang dalam hal ini OS, yang paling sesuai bagi dirinya pribadi. Mungkin pandangan orang yang “menguasai” konsole dalam linux memang akan memudahkan, tetapi di belakang itu linux-pun hadir dengan menyesuaikan kebutuhan usernya masing-masing. Mungkin yang jadi masalah adalah standar desktop dan sosialisasi sistemnya. Dan berpindah ke lingkungan OS yang lain tentu membutuhkan sebuah penyesuaian kebiasaan. (Contoh: windows-pun mengalami masa transisi dari sistim win 3.1 ke 95 yang masih berbasis DOS, hangga ke sistem XP yang berbasis NT)
    Jika bagi anda menggunakan windows merupakan pilihan yang lebih tepat maka tidak ada yang bisa memaksa (siapapun, dalam hal ini) untuk memilih OS yang disukai.
    Linux hadir sebagai sebuah pilihan, dimana saat ini pengguna komputer yang sudah “mapan” dengan dunia windows kembali dipersulit dengan adanya undang-undang HAKI. Orang lain yang memilih linux tentu sadar dengan kondisi tersebut. Jika seandainya microsoft kemudian mengeluarkan versi windows yang lebih “terjangkau” mungkin akan lebih banyak penggunanya tapi itu tak akan merubah kenyataan bahwa sebagian orang tetap memilih linux.
    Kalau anda ingin memilih cara kerja administrasi user pada linux misalnya serupa pada windows itu pun bukan sebuah masalah bagi admin linux.Karena sistim tersebut dapat dikustomasi sesuai kebutuhan anda. Caranya bagaimana anda bisa cari tahu sendiri,toh itu juga komputer anda sendiri kan?
    Jangan salah kaprah, saya juga masih menggunakan windows tapi saya juga memilih untuk mempelajari hal baru jika menurut saya itu baik.

  38. nrkhlsmjd said, on Agustus 21, 2007 at 22:42

    gak bisa console koq nyalahin linux…
    belajar dong..!! masa’ belajar aja males..!!
    no console…no gui…
    no gui…no problem…

  39. arisuke said, on Agustus 30, 2007 at 14:21

    dah 8 bulan aku pakai single OS linux, tp tetep kalo soal kemudahan menurutku windows masih lebih baik. Ttp untungnya bukan krn alasan kemudahan yg bikin ku tertarik sm penguin atau krn takut disweeping. Linux lebih soal kepuasan 🙂
    Dan tidak pernah salah jika orang memilih windows, jika memang lebih produktif dg windows, knp mesti memaksakan memakai linux?

  40. sukris nantoro said, on September 6, 2007 at 13:54

    saya minta tolong kepada pengembang linux, untuk dapat memberikan info cara membuat DIStRO Linux sendiri, seperti saudara sudah lakuakan. saat ini saya menggunakan LINUX Bankon dan LINPUS 9.1. saya ingan membuatnya seperti kedua distro tersebut.

  41. G4mbl3h said, on Oktober 1, 2007 at 8:39

    Salut buat mas Eko,

    Blogs ini adalah cerminan sebuah kemampuan untuk berpikir secara premium di luar rutinitas sehari-hari, semoga ide “gila” ini membawa kemaslahatan bagi kita semua, Amin.

    salam hangat

    %g4mbl3h

  42. wanaguna said, on Oktober 5, 2007 at 8:23

    saya masih pake RUDYPUPY LINUX yang merupakan pengembangan puppylinux 2.13.Gampang dan lengkap lagi.
    persis seperti windows me yang dulu saya pakai
    ini keterangannya di http://www.puppylinux.org/wikka/RudyPuppy
    lebih senangnya lagi hardware saya semua berjalan.
    OTOMATIS!!! tanpa ngset ulang
    bahkan main dvd bisa, mp3 bisa, 3gp juga bisa. Openoffice, program statistik R dan Stats4U, k3b, k9copy, program gambar kimia Easychem, gambar sains Rlplot,

    sip deh!!!!.

    tapi waktu install jangan lupabikin swap minimal 1 Mb
    Saya pakai komputer ACER pentium III RAM cuma 128 MB. Hardisk 10GB.
    Intinya buat dulu SWAP dengan puppylinux standard yang kecil cuma 50 MB sebab Rudy puppylinux agak gedhe yaitu sekitar 600 MB. jadi pasti agak susah nginstall atau loading dengan memory kecil.
    salam indonesia pasti maju tanpa sofware mahal.

    wanaguna

  43. wanaguna said, on Oktober 5, 2007 at 8:26

    eh SALAH KETIK yang bener swap 1gb (gigabiyte)
    maapin yach

  44. supriyanto said, on November 23, 2007 at 14:58

    iya tu…linux bagi pemula sering bilang “susah banget” gw jg begitu. bosan dengan windows sih ga cm takut dirazia mas polisi. dulu aku pake Mandrake, Linspire, trus ganti Ubuntu tapi sama susahnye…
    1. saat mo naikin resolusi layar ga bisa.
    2. mo muter musik & pilem juga ga bisa.
    3. printer gw 2-2 nya ga dikenali.
    4. HP apalagi.
    makanya gw setuju banget kalo ntar distro linux bisa secanggih Windows, itu..tu yang bisa Plug & Play.

    makasih

  45. undurundur said, on Januari 13, 2008 at 2:41

    EDUKASI.
    ya, edukasi itu penting. mayoritas dari kita sangat kurang memahami apa itu lisensi, HAKI dan sejenisnya. kita pun banyak yang tidak tahu bahkan kalau format MP3 itu berlisensi. sah-sah saja menggunakan OS properietary asalkan kita membelinya secara resmi. bukannya saya anti linux, saya sudah menggunakan Ubuntu selama hampir 2 tahun kok. dulu saya juga sempat anti wind**s, tapi saya akhirnya juga sadar bahwa kita bukanlah Richard Stallman yang bisa hidup hanya dengan open source. memang open source punya banyak kelebihan, tapi saat ini sepertinya belum sempurna untuk dapat digunakan pada semua aspek TI. hal ini tidak lepas dari “gotong-royong”. kita tahu segala sesuatu yang gratis memang tidak sesempurna yang bayar. saat ini jika kita ingin linux (khususnya open source) lebih maju, kita harus berkontribusi (meskipun sedikit). so mulailah dari hal kecil seperti menterjemahkan linux kedalam bahasa indonesia, bikin tutorial sederhana atau mungkin donasi bagi yang uangnya lebih:)). sebenarnya OS bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. yang penting bagaimana kita sampai pada tujuan utama menggunakan komputer karena OS hanya jembatan antara hardware dan brainware. dan yang paling penting: jangan gunakan software bajakan!!

  46. Joo Izzy said, on Februari 2, 2008 at 0:49

    Hahaha.. hihihi kalian boleh adu ide, adu argumen + aduin gw dong ke linux..
    sekarang taon 2008.500 taon lagi 2508 tet..tet.. “hpy nw yr..!!!”
    taon 2508 orang ngga jalan pake kaki..
    taon 2508 orang ngga nginjek bumi [bukan ghost]
    taon 2508 orang piknik ke mars..
    yoi.. semua serba mudah.. mau masak tinggal siul..
    mau nonton tinggal siul.. ada tugas dari dosen tinggal cuap-cuap..jadi dech!! weleeeh..ngayal
    kenapa ngga?!! LINUX taon 2009 dibuat kaya’ taon 2508(cape dee)
    jangan ketinggalan start dari wong londo dong!!
    ayoo..Semangat!!! gw tungu distronya…. gw kn orang 2508 tinggal make geto loh..
    Suxsez Buat Pinguin Mania!!!! gw dukung dengan doa ^_^ “amin…amin..amin..”

  47. namidairo said, on Juni 22, 2008 at 20:09

    Kenapa saya ragu menggunakan Linux?

    1. Driver
    beberapa distro susah banget cari driver sejenis handphone dll

    2. Deep Freeze
    Linux bisa di Deep Freeze g? Bagi saya ini software paling penting. Saya tahu Linux punya semacam hak akses. Jadi user biasa g bisa ubah settingan root. Tapi yang saya butuhkan sejenis Deep Freeze yang sangat penting digunakan di warnet2 untuk menghindari pencurian cookies, password, dll.

  48. AInk said, on Juli 17, 2008 at 9:26

    Saya sepakat, kita harus mulai untuk gunakan linux, karena windows original sangat mahal….
    Apakah kita harus selamanya pake yang ilegal (haram)…
    Salah satu negara kita tidak maju-maju karena pekerjaan dilakukan dengan menggunakan perangkat haram, sehingga hasilnya pun menjadi haram (tidak bermanfaat).

    Maju terus linux…..

  49. phpghz said, on Juli 22, 2008 at 10:56

    7 tahun .. tapi masih pemula

  50. insan said, on Agustus 18, 2008 at 23:32

    Hallo…mas, salam kenal!!!, saya mau minta izin..tuk pasang link ke blog ini…terimakasih atas perhatiannya,

  51. gnine said, on Agustus 21, 2008 at 15:47

    @ ihsan
    Silahkan saja…

  52. canmasagi said, on September 5, 2008 at 8:58

    Menarik.. salah satu hambatan adalah paket aplikasi (repo) kebanyakan di kita belum mempunyai koneksi internet yang memadai. Selama ini yang pakai linux adalah orang-orang yang punya hobi ngoprek dan punya keberanian yang cukup buat bereksplorasi dan menghapi kegagalan instalasi dan sebagainya.

  53. yusril said, on September 24, 2008 at 21:00

    saya pikir semua orang indonesia hampir berpikiran sama dengan bpk.sekarang waktunya memujudkan impian itu.jujur saya mau beralih ke linux tapi 8 pertanyaan diatas juga ada dlm pikiran saya.dan saya belum mendapatkan jawaban yang pasti dan jelas.menurut saya kuncinya adalah belajar,tapi mulai dari mana itu yang terpenting.

  54. Tentang Kejap.com « Gunter G-9 said, on Desember 28, 2008 at 17:28

    […] Dan yang membuat saya terpana, tulisan pertama yang masuk kejap.com adalah tulisan saya tentang Distro Linux Untuk Orang Indonesia. Koq bisa […]

  55. cidlinux said, on Februari 6, 2009 at 17:08

    adikku 5 tahun, anak sd kelas 5, anak smp, anak smu, anak kuliahan yang gak windows fanatic, ibu-ibu…. aku jejelin linux…. gak pada ngeluh susah tuuuh saat pertama kali pakai…. tinggal klik2 klik jebreeet…. ya walopon gak 100% persis windows…. dan 7 bulan lalu saya mulai mengenal linux…. Linux benar-benar tumbuh pesat…. semua software windows suatu saat akan 100% benar2 berjalan dilinux… bahkan OS Windows pun bisa jalan di Linux…. jadi dual OS dalam satu layar dengan kestabilan yang mantap….

    saran saya klo mau kenal linux, ubah dulu pikiran “susah” itu ke gampang…. karena anak kecil aja mau pake linux, yang gede-gede kok gak mau… apa gak malu ama anak kecil…. mulai dari mana ya mulai dari milih distro… pilih yang 10 besar… trus dipersempit yang sesuai dengan selera… klo sudah klep tekuni…. klo sudah sip… tinggal belajar cara nginstall…. dari yang GUI sampe konsole… kemudian belajar apa itu dependensi… gak susah kok… karena mode konsole hanya untuk keperluan yang darurat saja… sama seperti windows… klo darurat juga butuh mode DOS…

    saya pake linux gak pake belajar dulu loh… tau2 tinggal pake ajah….. dan ketagihan deeeehhh…. saya bukan orang linux bukan orang komputer bukan orang ti cuma orang jurusan farmasi yang iseng coba2 linux…

    kunci bisa linux :
    “jangan pernah anggap linux gak bisa apa2”

    Karena anda bisa mendapatkan sesuatu yang sangat lebih dibanding dengan windows,
    penggunaan linux bukanlah untuk membenci windows, tapi menghindari pembajakan…. menghargai hasil karya orang lain… karena klo kita menghargai hasil karya orang lain suatu saat pasti kita akan dihargai…

    dengan memakai yang legal hati tenang, usaha berkah…

    beli windows asli = biaya belajar linux dari 0

    bagi yang masih pake bajakan, or menganggap pake bajakan itu sah2 saja….
    bagi yang islam baca ini:
    http://awali.org/articles.php?article_id=139

  56. cidlinux said, on Februari 6, 2009 at 17:21

    1. Bagaimana caranya menginstal Linux? Apakah semudah Windows?

    mudah sekali…. (ex PCLinuxOS,mandriva,ubuntu).. bahkan bisa dites dulu sebelum install…

    2. Bagaimana menginstal software di Linux? (Katanya .rpm itu mirip dengan .exe di Windows, dahulu, saya juga punya pikiran seperti ini)

    paket software umumnya sudah disiapkan oleh distro secara kumplit, bahkan udah ada autopackage jadi hanya tinggal klik dependensi yang diminta langsung dikasih tau… tinggal klik2 klik

    3. Apakah linux bisa ‘found new hardware‘ ketika kita menambahkan perangkat keras baru?

    90% autodetected

    4. Apakah Linux bisa mencetak seperti di Windows?
    bisa, pake win on linux juga 100% bisa..
    Apakah software bawaan printer bisa diinstal di Linux?
    bisa dengan win on linux or wine

    5. Apakah Linux bisa buat akses internet?
    bisa
    Apakah modem saya bisa digunakan di Linux?
    bisa, tergantung modemnya dibuat tahun kapan klo terlalu baru ya tinggal cari linux dengan kernel yang terbaru..

    6. Apakah Linux punya aplikasi seperti Microsoft Office?
    ada openoffice, office buatan microsoft pun juga bisa jalan di linux, pake wine croossover bordeaux dll

    7. Apakah Linux bisa memainkan berkas .mp3 seperti di Windows?
    bisa
    Apakah ada WinAmp di Linux?
    alternatif AMAROK

    8. Game seperti apakah yang bisa dimainkan di Linux?
    Buanyaakk banget, dari FPS, Sport, Racing dsbgny semuanya freee…. dengan kualitas yang gak kalah dibanding windows..

    Bisakan Linux memainkan game-game untuk Windows?
    95% Bisa, bahkan speed di linux jauh lebih cepat dibanding windows…

    ex: game counter strike… main dilinux bisa disambi ngerjain yang lain…. misalnya buka internet…. coba diwindows…. bisa restart2 sendiri…

    yap…. apa lagi yang susah????

  57. […] : https://gnine.wordpress.com/2007/02/18/distro-linux-untuk-orang-indonesia/) You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, […]

  58. triwandha said, on Agustus 9, 2010 at 15:44

    wah, dan skarang (2010) udh mulai banyak distro2 yang keren.
    saat ini saya (orang indonesia) memakai ubuntu 10.04 lucid lynx.
    sangat mudah. hampir smua pake GUI (meski juga make terminal/konsol)
    ngga nutup juga kalo saya pake 3 os di pc saya (xp, seven. sama ubuntu) soalnya gak smua aplikasi windows lancar di wine.

  59. tumagonx said, on Oktober 21, 2010 at 19:22

    Yg penting software crossplatform bukan OSnya.
    Dan juga bukan emulasi (WINE, crossover, VM dst) buat apa punya Office/Windows legal tapi jalan di Wine/Vbox ada2 saja.

    Landasan software macem QT, GTK itu yg penting, terus pengguan bahasa yg ISO/ANSI standar supaya bisa dicompile dan bisa jalan di Trio Mac, Win & Lin.

    tidak cross-platform = monopoli
    ingat ketila iphone melarang Flash, apalagi alasannya kalo bukan monopoli apple.

    Kita ga “BUTUH” belajar OS, lagian ngapain? Toh produk kita bukan dari OSnya tapi dari aplikasi yg terinstal. Makin banyak distro keyataannya makin tidak konsisten (byk yg berguguran) padahal support itu penting kalau di dunia bisnis, kenapa tidak benahi saja dulu modul2 translali indonesia pada OSS? itu kan hal sepele…

    Kalau kita mahir Gnumeric atau GIMP kita ga perlu kawatir pake OS manapun. Saya pribadi mengurutkan dari yg plg mudah: Mac, Windows trus Linux.

    Aku juga anti Stallman dengan GPLnya (lebih suram dari BSD/MIT) dan masih anti CLI. Akan ada masa dimana orang bilang Gnumeric/OOO dah cukup untuk buat neraca. Dan perusahaan besar macam M$, Adobe akan kewalahan untuk meyakinkan usernya supaya terus upgrade seperti pada Windows XP vs 7+Vista.

    CLI adalah cerminan programmer yg tidak peduli enduser, kalo bisa buat opsi -s -r -y -K pake checkbox kok ga dibikin? apa tunggu user ketik –help atau man ya elah ini jelas bukan masalah kebiasaan. Ini karena programmer umumnya tak punya/minim intuisi ala Steve jobs.

    Soal RPM vs Installer, itu beda paradigma bro! Dependencies vs Portabilitas alias Dynamic Link vs Static Link. di Linux kalau GCC dah ganti versi kalian mau apa? mau kompile sendiri pake static link? plg2 upgrade truss

    Imbas dari hal diatas adalah Linux hampir mewajibkan pengunanya punya internet! (ini Indonesia gt! kejam banget), atau anda mau berburu dependencies di warnet seandaikanya program yg ada butuhkan tak ada di DVD?

    yg msh demen windows mampir ke blog saya dunk
    opensourcepack.blogspot.com

  60. vandhoe said, on November 23, 2010 at 15:35

    maaf ne,ogut cma m tya j,klo instal c261 di linux linpus gimana y,n cara merubahnya ke xp gimana

  61. Ade Malsasa Akbar said, on Januari 12, 2013 at 17:10

    Saya mau menambahkan, Pak Eko:

    http://malsasa.wordpress.com/2012/11/02/kalau-linux-mau-maju/

    Akhirnya saya temukan orang yang menulis ide-idenya untuk masa depan Linux. Terima kasih, Pak. Saya baca-baca dulu.

  62. Ade Malsasa Akbar said, on Januari 12, 2013 at 17:16

    Oya, satu poin saja.

    Andai ada distro yang membuat sendiri satu aplikasi Universal Modem Installer untuk modem-modem yang beredar di Indonesia, itu akan sangat bagus.

    Kalau menurut saya sih bukan distronya, Pak Eko. Aplikasilah yang paling berperan. Wong sebagian orang pakai Windows karena ‘Photoshop’nya, kok 🙂 Lebur saja beberapa developer distro jadi 1 developer aplikasi khusus. Yakin bakalan berguna 🙂

  63. gnine said, on Juni 8, 2013 at 18:24

    tulisan ini dibuat tanggal 18 Februari 2007, setelah kurang lebih 6 tahun saya menggunakan Linux sebagai pengguna biasa. Kalo ukuran sekarang sepertinya tulisan saya itu banyak yg miss alias out of date, contohnya Poin 6, internal modem. Waktu itu modem internal yg dipasang di slot PCI dan biasanya terkoneksi dh Telkomnet Instan itu masih cukup populer, dan menyetingnya jauh lebih ribet daripada menyeting USB modem jaman sekarang karena internal modem itu ternyata hanya sebuah softmodem/win modem. Modem yg hardware biasanya modem ekternal dg menggunakan port serial/paralel (jangan2 anak jaman sekarang gak ngerti apa itu port serial/paralel)

    Untuk modem sekarang, pada dasarnya sudah dikenali oleh kernel dg baik dan benar (rata2 dikenali sebagai node /dev/ttyUSB0). masalah timbul ketika user space application (yg populer skrg Network Manager) tidak bisa menghandle ini. akibatnya sebagian user akan mengeluh kalau seting modem di linux susah banget.

    Saya sendiri lebih sering menggunakan KPPP (di KDE) hampir tidak memenui masalah utk seting modem, sepanjang user kita masuk group dialout, plus seting modem di KPPP seluruhnya pake GUI. dan menurut pengalaman saya KPPP lebih powerful ketimbang NetworkManager, atau bahkan wvdial. Perlu diketahui juga, sebernarnya KPPP ini hanya sebuah front end dari command line standar linux/*nix untk koneksi point-to-point protocol, pppd. CMIIW.

  64. Ade Malsasa Akbar said, on September 6, 2013 at 8:57

    Mantap, Pak. Pengguna Slackware emang beda. Dan rata-rata pengguna KDE emang geek yang paham sistem. Apakah ada rencana update blog ini, Pak? Terima kasih banyak.

    Saya akan menyimpan semua wejangan bapak.

  65. edwin said, on Maret 6, 2014 at 12:45

    numpang tanya apakah linux bisa bermain game online?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: